1. Pengertian.
    1. Secara bahasa ahad maknanya satu, hadits ahad yaitu hadits yang diriwaytaknan satu orang.[1]
    2. Secara istilah, adalah hadits yang tidak terkumpul syarat-syarat mutawatir.[2]
  1. Pembagian Hadits Ahad.
    1. Hadits Masyhur.
  1. Pengertian.

Hadits masyhur yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tiga perawi atau lebih disetiap tingkatnya, asalkan tidak mencapai derajat mutawatir.

  1. Hukum Hadits Masyhur.

Hadits masyhur tidak dapat dikalim sebagai hadiits yang shahih atau  tidak shahih. Melain ada yang shahih, ada  uga yang hasan, dha’if bahkan ada yang maudhu’.

    1. Hadits ‘Aziz.
  1. Pengertian.

Hadits ‘Aziz yaitu hadits yang jumlah perawinya tidak kurang dari dua orang diseluruh tingkaan (thabaqat)  sanadnya.

    1. Hadits Gharib.
  1. Pengertian.

Hadits Gharib yaitu hadits yang hanya diriwayatkan  oleh seorang perawi sendirian.

  1. Pembagian Hadits Gharib.
  2. Gharib mutlak yaitu bila kesendirian periwayatannya terdapat pada asal sanad (shahabat).

Misal:

إنما الأعمال بالنيات

                                          “Sesungghnya amal perbuatan tergantung niatnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab seorang diri.

  1. Gharib nisbi, yaitu apabila kesendirian terjadi pada pertengahan sanad.  Dinamakan gharib nisbi karena letak kesendirian dinisbatkan kepada individu tertentu.

Misal:

مالك عن الزهري عن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم

دخل مكة وعلى رأسه المغفر .

“Hadits Malik dari Az Zuhri, dari Anas  bahwa Nabi memasuki Makkah sementara di atas kepalanya terdapat penutup.”

Kesendirian terdapat pada Malik dari Az Zuhri.

  1. Dalil kehujjaha Hadits Ahad.
  1. Al Qur’an.
    1. Allah berfirman, dalamsuratAl Ahzab, ayat 36:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”(Al Ahzab:36)

  1. Allah berfirman:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.”( Al Hasyr: 7)

  1. Allah berfirman:

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya (kemedanperang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”(At Taubah: 122).

Menurut ayat diatas, merupakan fardhu kifayah bagi sebagian kelompok orang-orang mukmin untuk pergi mendalami agamanya meliputi aspek aqidah atau pun hukum. Thaifah (kelompok) dalam bahasa Arab mengandung arti satu orang atau lebih. Ibnu Atsir dalam bukunya, An Nihayah, menjelahkan Thaifah (kelompok) artinya kumpulan manusia atau satu orang saja.” Imam Al Bukhari juga menegaskan, ” Satu orang dapat disebut sebagai thaifah (kelompok), sesuai dengan firman Allah:

. وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا (الحجرات : 9)

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang.”(Al Hujurat, sekiranya orang orang yang saling bunuh, maka keduanya termasuk dalam kandungan ayat tersebut.

Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari, menegaskan:”Kata thaifah berarti satu orang atau lebih, tidak dibatasi oleh bilangan-bilangan tertentu.”

Kalau sekiranya tidak boleh berhujjah dengan hadiits ahad dalam aspek aqidah maupun hukum, niscaya Allah     dalam ayat diatas, tidak mengkhususkan mereka  untuk menyampaikan ilmu (tabligh), (“Supaya mereka itu dapat menjaga dirinya). Dengan demikian ayat tersebut menegaskan bahwa ilmu termasuk kandungna hadits ahad.[3]

  1. Hadits.
    1. Dari Zaid bin Tsabit mengatakan:” Aku mendengar Rasulullah n bersabda:

نضّر الله ا امرأ سمع منّا حديثا فحفظه حتى يؤديه فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه

 ورب حامل فقه ليس بفقيه ( رواه أبو داود و النسائي و ابن ماجه و الترمذي )

“Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang mendengarkan hadits dari kami lalu menghafalnya hingga menyampaikannya. Berapa  banyak orang yang mendengar hadits dari kami lalu menghafal hingga menyampaiknnya. Berapa banyak orng yang membawa ilmu lalu menyampaikannya kepada orang yang lebih faham dari padanya, dan berapa banyak orang yang membawa ilmu namun tidak mengerti.”(HR. Abu Dawud, An Nasa’I, Ibnu Majah, dan At Tirmidzi)

  1. Dari Abu Hurairah zia berkata:” Telah bersabda Rasulullah n Aku tinggalkan dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunah, dan keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangiku di telaga   (di surga). ( HR. Al Hakim dan Al Baihaqiy).
  1. Pendapat Para Ulama’ Tentang Hadits Ahad.[4]
    1. Imam Malik Dar Al Hijrah.

Ibnu Khawazamandad, seorang ulama’ Fiqih dari kalangan Madzhab Maliki menyebutkan bahwa Imam Malik telah menjelaskan tentang khabar ahad, yaitu hadits ahad memberikan pengertian yakin (Al Ilmu).

    1. Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah

Dalam Raf’ul Malam ‘Anil Aimmah Al A’lam beliau berkata:”Seperti perbedaan mereka dalam hadits ahad yang diterima dan dibenarkan oleh umat atau sepakat untuk mengamalkan.

    1. Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani.

Di dalam kitab Nudzatu An Nadzar Syarh Nukhbat Al Fikr, beliau berkata:”Kadang juga terjadi yaitu pada hadits ahad yang dibagi menjadi masyhur,  aziz, dan gharib yang memberikan ilmu nadzari dengan beberapa ketentuan sesuai pendapat yang kuat, berbeda orang  yang enggan tentang hal itu…”

    1. Asy Syaukaniy.

Dalam kitab Arsyadu Al Fuhul beliau menegaskan:”Tidak ada perbedaan mengenai hadits ahad apabila ada ijma’ untuk mengamalkannya, berartia ia memberikan pengerian ilmu. Sebab ijma’ tersebut menjadikan ia harus dimaklumi kebenarannya. Namun bila hadits ahad tersebut disepakati penerimaannya oleh umat.”

  1. Orang yang Tidak Menerima Hadits Ahad dalam Masalah Akidah dan Bantahannya.
  1. Sebagian mereka mengingkari hadits ahad sebagai hujjah dalam masalah akidah, dengan alasan:
    1. Karena dasarnya bersifat dzani. Dan dzani tidak memiliki dalil penetapan. Dalil penetapan harus berbentuk burhan yang qath’iy.

Bantahannya: Semua dalil qath’I mewajibkan untuk mengamalkan hadits ahad, jika penisbatannya benar kepada Rasulullah n.

  1. Allah berfirman:

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya (kemedanperang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”At Taubah :122.

Seandainya peringatan suatu golongan yang memperdalam agama dalam ayat ini bukan sebagai hujjah yang harus diamalkan, tentu Allah tidak mencukupkan peringatan dengan golongan  tersebut. Dan jika peringatan seorang adil yang berangkat untuk bertafaquh dalam agama diterima, wajib pula diterima riwayat seorang yang adil yang mengahafal apa yang ia dalami dari agama ini.

  1. Rasulullah n telah mengutus satu orang kepada raja untuk menyeru mereka kepada  islam. Dengan demikian hadits ahad sebagai hujjah.
  2. Kewajiban mengamalkan dugaan (dzan)akan kebenaran adalah sudah menjadi perkara perkara yang dimaklumi dengan  jelas dalam agama, seperti penetapan hukum berdasarkan kesaksian dua orang  dan kesaksian seorang saksi yang disetai dengan sumpah dari penuduh. Maka demikia pula dengan wajibnya mengamalkan hadits ahad ketika dugaan akan kebenarannya.[5]
  1. Allah mecela sikap dzann dalam aspek    keyakinan atau aqidah. Allah berfirman:

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”(An Najm:28)

Bantahannya: pemakaian ayat tentang dzan ini  tidak bisa dibenarkan karena beberapa sisi:

    1. Allah menolak sikap tersebut dengan penolakan yang mutlak tanpa menyebut aspek akidah  maupun hukum. Hal ini mereka akui.
    2. Yang benar  ayat-ayat diatas meliputi aspek akidah dan hukum sekaligus.

Anggapan mereka bahwa semua ayat-syat dzan menegenai akidah karenanya ia harus diposisikan khusus dalam aspek akidah, tidak bisa menyelamat mereka dari tiga hal:

1)      Bahwa ( العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب).

2)      Allah dalam Al Qur’an sangat jelas menerangkan bahwa dzan yang diingkari terhadap orang-orang musyrik juga meliputi aspek hukum. Firman Allah:

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (Al An’am : 148).

3)      Allah menyebutkan kata dzan didalam Al Qur’an dalam konteks keyakinan dan memujinya.

Allah berfirman :

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ إِنِّي ظَنَنتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيهْ

“Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai.” (Al Haqqah: 20-21)

Jadi, Apakah dzan yang dikecam Allah terhadap orang-orang musyrik dan  dzan yang dipuji, bagi orang-orang beriman sama? Kita harus menelusuri arti kata dzan tersebut.

Apabila dzan  jauh dari indikasi-indikasi yakin  maka ia disebut wahm, takharrush, dan takhmin. Namun bila telah cenderung  pada keyakinan maka disebut ilmu dan  yakin.

Pakar bahasa berkata:”Dzan adalah keraguan dan keyakinan.” Ibnu Abbas berkata:” Bisa jadi dzan dan yakin terjadi bersamaan, sebab itu merupakan pernyataan hati yang apabbila suatu dalil benar berikut indikasi- indikasinya, maka termasuk dalam yakin. Dan apabila dalil-dali syak (keraguan) ada dan dalil-dali yakin nihil, maka disebut dusta.Apabila dalil-dalil kebenaran dan keraguan memiliki kekuatan yang sama, maka ia termasuk dalam kategori syak.

Maka jelas mengapa Allah mencela orang-orang musyrik yang mengikuti persangkaan mereka. Dzan orang-orang  musyrik tersebut mengandung pengertian, wahm, takharrush, takhmin, kadzib termasuk pada sikap berkomtar tentang Allah tanpa didasari ilmu pengantahuan. Ini akan semakin jelas bila kita perhatikan, firman-Nya:

“Dan karena ucapan mereka:”Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah “, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa.” (An Nisaa’: 157).

Dzan pada ayat-ayat tersebut mengandung arti mengikuti hawa nafsu. Dan yang dzan demikian dangant jauh dari Yakin. Dapat diketahui bahwa dzan yang dipuji  itu ialah dzan yang lebih kuat kepada makna ilmu dan yakin. Ketika berbicara tentang orang mukmin Allah berfirman:

. الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (البقرة:46)

“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al Baqarah: 46).

Arti dzan pada ayat diatas adalah yakin.

Tidak ragu lagi bahwa dzan yang dikandung oleh hadiits ahad yang adil lebih cenderung kepada dalil-dalil kebenaran. Karena yang menolaknya ternyata menjadikannya sebagai dalil atau hujjah dalam hukum-hukum syari’ah, sebab dzan yang marjuh (jauh dari makna yakin tidak bisa dijadikan hujjah baik dalam hukum maupun ibadah.

Khawarij dan Mu’tazilah juga telah menjadikan ayat-ayat dzan  sebagai dalil tidak bolehnya berhujjah dengan hadits-hadiits ahad, baik dalam masalah akidah atau hukum.

Jadi mereka salah kketika menafsirkan dzan yang dikandung hadits ahad. Karena mereka mengkiyaskan     dengan persangkann orang musyrik terhadap Rabb. [6]

Maraji’

  1. Al Qur’an Al Karim.
  2. Hadits Ahad Hujjah dalam Hukum dan Aqidah, Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali.
  3. Pengantar Studi Ilmu Hadits, Syaikh Manna’ Al Qaththan.
  4. Taisir Mushthalah Al Hadits, DR. Mahmud Ath Thahhan.

[1] . Terjemah Pengantar Studi Ilmu Hadits, Syaikh Manna’ Al Qaththan, 133.

[2] . Taisir Mushthalah Al Hadits, DR. Mahmud Ath Thahhan, 22.

[3] . Hadits Ahad Hujjah dalam Hukum dan Aqidah, Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali, hlm 334-

[4] . Pendapat para ulama’ ini kami nukilkan dari kitab, ” Hadits Ahad Hujjah dalam Hukum dan Aqidah, karya Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali.

[5] . Pengantar Studi Ilmu Hadits, Syaikh Manna’ Al Qaththan, 37-38.

[6] . Diukil  daari kitab, ” Hadits Ahad Hujjah dalam Hukum dan Aqidah, karya Abu Usamah Salim bin Ied Al Hilali.

About fanimedia

Islamic Web Hosting and Web Design

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s